
Sebelum memulai tulisan ini, perkenankan saya memulainya dengan sebuah pertanyaan: Apabila anda mendapat paket liburan dengan transportasi dan akomodasi gratis di Indonesia, kota mana yang menjadi tujuan anda untuk berlibur? Dengan semua pengetahuan yang anda miliki tentang pariwisata di Indonesia, akankah anda menjawab bahwa, “Saya ingin memanfaatkan paket liburan gratis ini ke Surakara dan menikmati keindahan kota Surakarta”?. Jujur saja saya tidak akan menjawab Surakarta dan akan terlihat kurang pintar jika menjawab itu. Karena saya tidak suka ketika melihat banyak sekali pengemis dan pengamen di banyak perempatan jalan. Saya juga tidak suka melihat banyak sekali sampah yang tertumpuk di pinggir-pinggir jalan serta Pedagang Kaki Lima yang tidak tertata sehingga meyebabkan kemacetan dan kesemrawutan. Walaupuan saya membayangkan nampaknya akan menyenangkan kalau terlahir didaerah yang banyak memiliki potensi wisata yang begitu banyak seperti Pulau Dewata Bali, namun saya merasa bersyukur setidaknya tidak terlahir di daerah yang gersang, tandus, serta penduduknya yang kurang ramah. Biarpun saya menyukai Solo yang karena masyarakatnya sangat ramah, tetapi memikirkan hal yang membuat saya ingin berwisata ke Solo bukanlah suatu hal yang mudah.
Lebih sering dipakainya nama Solo dibanding dengan Surakarta serta asal usul nama tersebut menurut Walikota Surakarta, Joko Widodo, bermula sebelum abad ke-18. Pada saat itu terjadi peperangan yang menyebabkan Pemerintahan Hadiningrat Surakarta pindah ke sebuah dusun yang bernama dusun Solo. Mulai saat itu Surakarta pun lebih sering disebut dengan Solo. Mungkin orang jawa begitu ingin sederhananya dengan menyebut Solo yang hanya 2 suku kata saja ketimbang Surakarta yang mempunyai 4 suku kata, tentu saja sangat praktis, yang penting mempermudah pelafalan.

Apabila diminta menceritakan tentang keindahan Solo, maka saya akan menceritakan tentang Batik. Tentang warisan budaya dunia, ya Batik Laweyan.
Batik Surakarta itu, ya Laweyan, begitulah tulisan itu terpampang di salah satu sudut toko batik di Laweyan. Kenapa batik Surakarta harus identik dengan Laweyan, sebab di sanalah konon batik bermula, diproduksi secara turun-temurun. Kyai Ageng Henis-lah yang memperkenalkan batik kepada penduduk sekitar Pajang pada awal abad ke-16. Setidaknya, begitulah yang diyakini warga Laweyan hingga kini. Laweyan sendiri, berasal dari kata lawe, yakni serat-serat kapas halus yang merupakan bahan baku pembuatan kain mori. Kata Laweyan menunjukkan tempat dimana banyak benang lawe di sana.


Laweyan kini sudah tak semuram beberapa puluh tahun yang lalu. Pengakuan batik sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia oleh UNESCO membuat popularitas batik semakin meningkat. Trend penggunaan batik yang sedang digemari oleh kalangan remaja, membuat kebutuhan akan bahan batik terdongkrak pula. Dan Laweyan, kini mulai menggeliat. Bila hingga 2004 lalu hanya tersisa 11 usaha batik, kini sudah mencapai 60-an orang yang menghidupkan kembali usaha batik, khususnya batik cap dan batik tulis. Bahkan Laweyan pernah mendapatkan penghargaan berupa hadiah upakarti yang diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk kategori kepeloporan mereka menghidupkan Laweyan, bukan saja sebagai kampung batik, namun juga kawasan heritage.


Ada satu lagi tempat yang menjadi tujuan berlibur baru warga Kota Surakarta, Taman Balekambang namanya, terletak di daerah seperti nama taman tersebut yaitu balekambang. Balekambang, yang konon berasal dari gabungan kata bale (Balai) dan kambang (Mengapung) menunjuk pada keberadaan sebuah balai di atas telaga kecil. Dibangun pada 1921 oleh KGPAA Mangkunagara VII, taman itu lantas dinamai Partini Tuin, sebuah taman untuk mengabadikan putrinya tercinta yang bernama Partini. Baru pertama kali saya berkunjung ke Taman Balekambang, itupun ketika mengikuti kegiatan Jambore Blogger Nasional yang diadakan oleh blogger bengawan. Walaupun demikian saya bisa melihat taman yang begitu asri. Banyak pohon tua dan langka yang tumbuh disana dengan sangat terawat. Banyak pula muda-mudi yang menghabiskan waktu sorenya di taman ini. Sebuah gedung yang berdiri megah di dalam taman yang digunakan untuk pentas teater, ketoprak dan kesenian lainnya menggambarkan begitu pedulinya pemerintahan Surakarta untuk menghidupkan Taman Balekambang ini.


Saat menulis ini, terlintas dipikiran saya ; potensi wisata di suatu daerah tidak hanya sebuah peninggalan sejarah jaman dulu ataupun pemandangan alam yang indah. Potensi wisata bisa dibuat sendiri dengan mengandalkan kreativitas dan ketrampilan Sumber Daya Manusianya. Entah mengetahui hal tersebut atau tidak, masyarakat Solo mengadakan karnaval besar yang meriah dan diberi nama Solo Batik Carnival. Karnaval yang berlangsung sejak Juni 2008 tersebut merupakan event dengan peserta lokal yang terdiri dari pelajar/mahasiswa, pelaku usaha batik dan instansi pemerintah dimana mereka memamerkan pakaian hasil karya mereka on the street sejauh kurang lebih 3 km. Tentu saja pakaian yang mereka buat harus semenarik mungkin dan sedikit berkiblat pada model Jember Fashion Carnival (JFC). Berpengaruhnya JFC terlihat karena panitia yang menyeleksi karnaval tersebut merupakan Presiden JFC, Dynand Fariz. Solo Batik Carnival telah berlangsung selama hampir 3 tahun dan bertujuan untuk mem-branding Solo ke dunia internasional. Saya pun berharap kegiatan seperti ini terus dijaga keberadaannya di Solo yang akan menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung.
Solo... saat ini memang masih terdapat banyak kekurangan. Masih banyak yang harus diperbaiki. Tapi saya rasa tak apa, kegagalan dan ketidakpuasan yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa pekerjaan belum selesai. Dan pekerjaan ini tidaklah mungkin dapat dikerjakan semuanya oleh pemerintah Surakarta saja, melainkan harus dikerjakan bersama-sama. Kota Solo boleh sedikit berbangga dengan apa yang telah masyarakatnya lakukan. Pemerintah pun melakukan hal yang sama untuk perkembangan Solo dengan melakukan banyak hal seperti revitalisasi pasar tradisional dan penataan PKL dengan konsep nguwongke uwong. Mereka sampai saat ini telah berjuang untuk memperkenalkan Solo bukan hanya di Indonesia, namun seluruh Dunia. Apa yang telah mereka lakukan sekarang ini menjadi sangat penting karena meniupkan rasa optimisme agar daerah mereka menjadi tujuan wisata seperti yang telah dicapai oleh Bali, juga bisa mereka capai. Pada awal tulisan ini, saya menyebutkan bahwa seandainya saya mendapat paket liburan dengan transportasi dan akomodasi gratis di Indonesia, kota mana yang menjadi tujuan anda untuk berlibur?, maka saya tidak akan menjawab Surakarta. Namun jika mulai detik ini warga Kota Surakarta melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk memajukan pariwisata kotanya, mungkin 10 tahun kedepan saat menulis tentang Kota Surakarta, adik saya akan mengawali tulisannya dengan;
“Saya ingin sekali berlibur di Solo, kota yang begitu indah dan sangat menghargai budayanya. Saya mendapatkan semuanya di Solo. Bahkan apabila saya mendapat paket liburan dengan transportasi dan akomodasi gratis di Indonesia, maka dengan tegas saya jawab, saya ingin ke Solo.”
Kukuh Hari Setyawan – Pendekar Tidar Magelang